100 Hari Oma Tercinta…

 

Nelliwilowati Boentoro

1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 

2 Selama kita didalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, 

3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. 

4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. 

5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. 

6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 

7 sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. 

8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. 

9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 

10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. 

(2 Kor 5 : 1-10) 

  

Sabtu kemaren tanggal 31 Juli 2010, genap 100 hari Oma gw meninggal. Kita ngadain misa 100 hari-an Oma di rumah gw. 

Walaupun dah 100 hari tapi kalo inget Oma dah ga ada, rasanya tetep “nyesek”…..sakitnya menghujam sampe ke jantung. 

Mungkin karena gw deket banget kali ya ma Oma gw. Karena masa muda beliau dihabiskan untuk mengurus gw waktu gw masih kecil, secara bonyok gw kan 2-2 nya kerja. 

Dan ampe sekarang pun, gw ngerasa belom bisa ngebahagiain beliau 😦 

Malah mungkin gw lebih banyak nyakitin hati beliau. Yang jarang telpon lah, jarang nengokin lah, jarang ngasih perhatian dan cinta kasih lebih ke Oma, malah kadang gw suka kesel ma Oma karena beliau dah mulai pikun dan kalo makan belepetan. Intinya gw ga tau terima kasih sama orang yang udah “ngegedein” gw. 

Kata-kata terakhir yang gw inget banget, waktu terakhir gw telpon Oma (beberapa bulan sebelum Oma meninggal) : “Ityn kemana aja, kok jarang dateng, nengok Oma? ooo…kalo sibuk ga usah dipaksain dateng ya. Yang penting ityn sehat ya…Tapi sering-sering telpon Oma dong, denger suara ityn aja Oma dah seneng kok” 

Huaaaaa…….nulis kalimat diatas aja, mata gw langsung beraer lagi neh 😦 

Maafin cucumu ini ya Oma, yang tidak tahu terima kasih. Maafin ityn belom sempet ngebahagiain Oma. Semoga Oma tenang di sisi Tuhan Yesus, Amin. 

 

Advertisements

About and the story begin...

I am an ordinary woman with a simple thoughts
This entry was posted in etc, family, SHOT !. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s